Siri’ Na Pacce, Bukan Sekadar Gedung BaruOleh : H. A. Ahmad Saransi

Uncategorized1160 Dilihat

Makassar–Spionasenews.com. Kebakaran kantor wakil rakyat kita beberapa waktu lalu seharusnya menjadi pappaseng atau peringatan dan pelajaran. Kini, rencana membangun ulang kantor DPRD Sulsel dan DPRD Makassar mencuat, dengan berbagai usulan agar gedung baru tidak lagi berdiri di jalur protokol seperti Urip Sumoharjo dan Andi Pangerang Pettarani.

Namun, orang Bugis percaya, bukan letak rumah yang membuatnya terhormat, tetapi bagaimana pemiliknya menjaga siri’-na. Seperti kata petuah Bugis:

ᨔᨗᨑᨗᨆᨗ ᨊᨄᨚᨄᨌᨗᨂᨗ ᨕᨒᨛᨅᨗᨑᨛ᨞ ᨑᨙᨀᨚ ᨈᨛᨆ ᨔᨗᨑᨗ ᨊᨄᨆᨀ ᨒᨚᨒᨂᨛ ᨕᨚᨒᨚᨀᨚᨒᨚᨆᨗᨈᨘ᨞

“Siri’mi napopaccingi alebbireng, rekko temma siri’ napammaka lolangeng olokolo mitu.”
(Siri’lah yang memuliakan pemiliknya, tanpa siri’ yang ada hanya kehinaan.)

Artinya, kehormatan anggota dewan bukan ditentukan oleh megahnya gedung DPRD, tetapi oleh prilaku dan perlakuan mereka terhadap rakyat. Biar kantor DPRD dipindahkan ke mana saja ke pinggiran kota, ke pinggiran pantai, bahkan ke pulau terluar jika prilaku dan kebijakan mereka tidak berubah, rakyat akan tetap datang, bukan untuk memberi salam, tetapi untuk menuntut keadilan.

Orang Bugis juga memegang falsafah:

ᨑᨙᨔᨚᨄ ᨊᨈᨛᨆᨂᨗᨂᨗ ᨆᨒᨚᨆᨚ ᨊᨒᨙᨈᨙᨕᨗ ᨄᨆᨔᨙ ᨉᨙᨓᨈ᨞
“Rèsopa natemmangingngi malomo nalètèi pammasè Dèwata.”
(Hanya dengan kesungguhan, kerja keras, dan kejujuran, barulah keberkahan Tuhan akan turun.)

Maka, jika momentum kebakaran ini hanya dijadikan alasan untuk membangun gedung baru tanpa kesadaran baru, DPRD akan kehilangan wibawa dan kepercayaan rakyat. Gedung DPRD bisa berdiri lebih tinggi dari sebelumnya, tapi kehormatan wakil rakyat bisa runtuh lebih cepat daripada api yang melalap atapnya.

Inilah saatnya anggota DPRD melakukan relokasi kesadaran bukan hanya relokasi kantor. Relokasi hati dan pikiran dari kepentingan kelompok menuju kepentingan rakyat. Karena orang Bugis berkata:

ᨔᨕᨘ ᨒᨚ ᨅᨃᨘ᨞
ᨈᨛᨔᨕᨘ ᨒᨚ ᨕᨉ᨞
“sau’ lo bangkung. Tessau lo ada”
(Luka di tubuh bisa sembuh, tapi luka karena kata dan perlakuan sulit hilang.)
Rakyat bukan sakit hati pada gedung yang terbakar, rakyat terluka oleh keputusan dan sikap yang melukai keadilan.

Jika prilaku para wakil rakyat berubah, rakyat akan datang dengan senyum dan doa. Tapi jika prilaku tak berubah, di manapun kantor DPRD berdiri, rakyat akan selalu menemukan jalannya untuk berdiri di depan pintunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *