Pemkab Soppeng Matangkan Program Rp67 Miliar dan Listrik Masuk Sawah, Targetkan Lompatan Ketahanan Pangan

Uncategorized998 Dilihat

Soppeng– Spionase news.com. Pemerintah Kabupaten Soppeng menunjukkan keseriusan dalam mewujudkan ketahanan pangan dengan langkah konkret. Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di ruang pimpinan Kantor Bupati, Kamis (25/3/2026), dibahas secara mendalam optimalisasi lahan non rawa melalui dukungan anggaran pusat sebesar Rp67 miliar serta program strategis listrik masuk sawah.
Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, menegaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut langsung dari kesepakatan strategis bersama Kementerian Pertanian. Ia menekankan pentingnya implementasi nyata di lapangan.
“Kami tidak mau sekadar wacana. Listrik masuk sawah adalah solusi nyata atas kekurangan air saat musim tanam. Tahun ini, kita wujudkan,” ujarnya dengan penuh keyakinan di hadapan jajaran tim LPPM Universitas Hasanuddin, pihak PLN, kepala dinas, serta koordinator penyuluh pertanian dari delapan kecamatan.
Program ini dinilai monumental karena menghadirkan sinkronisasi penuh antara kebijakan pusat dan daerah. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran Rp67 miliar untuk program Optimasi Lahan (OPLAH). Namun, Pemkab Soppeng memastikan intervensi tersebut tidak hanya bersifat administratif, melainkan benar-benar menjawab persoalan mendasar di lapangan, terutama keterbatasan energi dan air.
Ketua Tim Penyusun SID LPPM Unhas, Andang Suryana Soma, Ph.D., menjelaskan bahwa pendekatan teknis yang digunakan kali ini berbasis data akurat. Penentuan lokasi dan kelompok penerima manfaat akan mengacu pada data Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) yang dihimpun langsung oleh penyuluh pertanian.
“Tidak ada lagi tebang pilih. Ini jaminan ketepatan sasaran,” tegasnya.
Dukungan krusial juga datang dari pihak PLN. Manajer PLN Cabang Soppeng, Ria Fitriani Rachman, menyatakan kesiapan penuh dalam membangun jaringan listrik untuk menunjang program tersebut.
“Listrik masuk sawah bukan sekadar penerangan. Ini energi produktif untuk pompanisasi dan irigasi modern, sehingga petani bisa tanam sepanjang tahun. Kami siap mendukung swasembada pangan nasional,” ujarnya.
Para penyuluh pertanian yang hadir menyambut program ini dengan optimisme tinggi. Mereka menilai kolaborasi antara Pemkab Soppeng, Unhas, dan PLN membuka peluang besar peningkatan produksi, khususnya bagi petani di lahan non rawa.
Koordinator penyuluh pertanian dari Kecamatan Lilirilau mengungkapkan bahwa selama ini petani kerap terkendala akses air. Dengan hadirnya listrik di area persawahan, diharapkan sistem irigasi dapat berjalan optimal dan meningkatkan produktivitas secara signifikan.
FGD ini menjadi lebih dari sekadar forum diskusi. Ia menjadi momentum penting yang mempertemukan program APBN, visi pembangunan daerah, dukungan akademisi, serta infrastruktur kelistrikan dalam satu arah kebijakan yang terintegrasi.
Dengan persiapan SID yang matang, dukungan anggaran yang telah tersedia, serta komitmen lintas sektor, langkah ini diyakini menjadi titik balik pembangunan pertanian di Kabupaten Soppeng.
Kini, Soppeng tidak hanya berbicara tentang potensi, tetapi mulai bergerak menuju realisasi sebagai lumbung pangan baru yang tangguh di tengah tantangan perubahan iklim—dimulai dari aliran listrik di sawah dan tekad yang terus menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *