SOPPENG — Spionase news. Com. Kasus penganiayaan yang menimpa Muhammad Al Akbar, seorang siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) No. 7 Soppeng, berbuntut panjang. Korban mengalami trauma dan menolak untuk kembali bersekolah setelah menjadi korban penganiayaan oleh teman sekelasnya beberapa hari lalu.
Wiwin, orang tua Muhammad Al Akbar, mengungkapkan bahwa anaknya mengalami luka memar di beberapa bagian tubuh akibat kejadian tersebut. Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan di lingkungan sekolah yang beralamat di Jalan Salotubgo, Kabupaten Soppeng.
“Kami sangat kecewa dengan kejadian ini. Anak saya trauma dan tidak mau lagi sekolah. Bagaimana mungkin penganiayaan bisa terjadi di lingkungan sekolah jika pengawasannya ketat?” ujar Wiwin dengan nada geram.
Wiwin menambahkan, informasi terkait penganiayaan ini diperolehnya melalui percakapan WhatsApp dengan wali kelas, Iyye. Dalam percakapan tersebut, Iyye membenarkan adanya laporan terkait penganiayaan yang dialami Al Fatih, siswa lain di SDN No. 7 Soppeng.
“Dalam chat tersebut, wali kelas kami mengatakan ‘Tongeng ndi,,,itu laporannya Al Fatih,,SDH banyak mi jg,,dr kelas lain’ (Benar itu, ada laporan dari Al Fatih, sudah banyak juga dari kelas lain). Ini membuktikan bahwa pengawasan di SDN No. 7 Soppeng sangat lemah,” tegas Wiwin.
Kasus ini menambah daftar panjang keluhan orang tua murid terkait pengawasan di SDN No. 7 Soppeng. Mereka khawatir kejadian serupa akan terulang kembali jika tidak ada tindakan tegas dari pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Soppeng.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi terkait kasus penganiayaan yang menimpa Muhammad Al Akbar.







